Oleh: Fakhrul Fata
Pod Elektrik dengan liquid rasa anggur ku hisap perlahan sembari mendengar pemateri bersemangat menjelaskan materinya. Kali ini, saya menikmati pembicaraan yang agak berat ini, bersama bulu kuduk yang tak mau duduk, suasana yang normal bagi malamnya Salatiga. Dalam serangkaian kegiatan harian Pondok Pesantren Al-Insaniyyah, Senin (21/4/25) malam, Khasan Ali mengisi materi tentang jurnalistik.
Menjalani malam yang normal bagi santri Insaniyyah, sebutan akrab bagi orang-orang yang tinggal di Pondok Pesantren Al-Insaniyyah, setengah jam setelah jamaah salat ‘isya didirikan kegiatan malam itu dimulai. Terekam wajah-wajah yang lelah setelah berkuliah seharian, melawan malas dan kantuk “makanan” malam itu harus siap disantap.
Aula kecil itu menampung sekurangnya 20 santri dan santriwati. Beralaskan tikar sekiranya muat 5-10 orang, saya memilih duduk di depan meja kecil tanpa alas. Tak terkecuali pemateri, kiranya agak kedinginan karena duduk langsung menapak lantai. Pemateri kemudian memulai perlahan dengan salam dan membukakan Power Point yang sudah sedia dipersiapkan sebelumnya.
Mas Khasan Ali, seorang mentor jurnalistik di Pondok Pesantren Al-Insaniyyah dan Direktur Huwa Aksara Nusantara, malam itu menjelaskan dengan lugas dan santai.
Dalam Jurnalisme Tidak Boleh Spekulatif
Kali ini pembahasan di seri pertama jurnalistik membahas mengenai berita liputan, berupa hard news dan feature. Dari hal yang paling mendasar, Khasan Ali mencoba memaparkan sedikit demi sedikit materi yang dibawakan. Slide per slide ditampilkan dengan ciamik, desainnya cukup menarik perhatian santri. Pasalnya poin-poin yang diperlihatkan cukup mengisi pikiran-pikiran yang sedari sore tidak mendapatkan asupan.
Tampilan Power Point memperlihatkan tulisan dengan tajuk sifat-sifat jurnalistik.
“Hindari spekulasi, jurnalistik harus jelas dan berdasarkan fakta,” tegas khasan saat menjelaskan poin ketiga dalam tajuk pembahasan tersebut. Memang dalam jurnalistik informasi, data dan narasumber harus jelas. Tidak boleh spekulatif, kejelasan informasi itu dapat diperoleh dengan berwawancara dari narasumber terkait. Atau bisa melalui data yang ada di internet, tentu harus mempertimbangkan kredibilitas sumbernya juga.
Menjaga Integritas di Saat Media Hari ini Penuh Teka-Teki
Sewaktu kecil, media arus utama—beberapa channel utama di TV seperti MNC TV, TVRI—memainkan peran penting dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Di hari ini, media arus utama seakan tergerus akan meruaknya media alternatif—Instagram, Youtube, Twitter—dalam menyuguhkan informasi, konten-konten, dan berita yang simpang siur kebenarannya. Bahkan banyak konten berita yang dibuat tanpa memenuhi kaidah jurnalistik, namun malahan yang banyak diminati.
Lantas saya menanyakan kegelisahan itu ke Khasan, kurang lebih singkatnya dijawab begini:
“Selagi kita punya kemampuan untuk membuat berita sesuai kaidah jurnalistik dan editorial media mengapa tidak?” jawabnya, santai.
Jawaban tersebut setidaknya mampu menganulir pikiran saya yang kerap kali terbujuk ingin mengikuti konten-konten, berita dan informasi yang sering kali clickbait dan lebih mementingkan engagement daripada berbasis data dan fakta.
Iseng berbincang kecil dengan teman sebaris, Muhammad And, santri Insaniyyah asal Sukabumi Jawa barat, merasa tersemangati setelah kurang lebih setengah jam menyelami jurnalistik malam itu.
“Jadi agak tertarik sih mas buat belajar lebih dalam,” katanya, penuh harap. Antusiasme kecil-kecilan antarsantri mulai tumbuh dengan bisik-bisik kecil mengadu memahami materi yang disampaikan. Terlebih santri putri yang sempat beberapa kali bertanya dan mencatat perihal poin-poin penting yang telah disampaikan.