Oleh: Choirun Nafi’ah
Di balik kenikmatan sepotong roti lapis, tersimpan metafora kehidupan yang dalam tentang generasi yang terhimpit beban besar kehidupan. Mereka lebih sering disebut sandwich generation—generasi yang berada di tengah-tengah—seperti isi roti lapis yang terhimpit di antara dua lembar roti, yang tekanannya datang dari dua arah. Bukan keju atau daging yang lezat untuk dimakan, melainkan tanggungan kebutuhan keluarga dan kebutuhannya sendiri. Mereka bukan sekadar generasi pekerja tapi, mereka juga para penjaga, penopang, sekaligus pengorban yang sering kali tak memperlihatkan kesusahan yang ia rasakan, akan tetapi selalu ia sembunyikan di balik pancaran senyuman.
Di dunia yang riuh oleh ambisi dan kejar-kejaran karier, sandwich generation memilih diam, menunda mimpinya, mengemas mimpi-mimpinya itu serapi mungkin dan menitipkan pada semesta, bukan karena kalah, tapi karena ia tahu ada tanggung jawab besar yang tak bisa ia abaikan dan ada nyawa-nyawa yang bergantung pada kehadirannya. Dan ia yakin ketika beban ini perlahan terangkat, masih ada waktu baginya untuk mulai meraih mimpi.
Yang menarik, generasi ini tak hanya dibebani oleh tanggung jawab ekonomi. Tetapi, juga menanggung tekanan mental yang kerap luput dari sorotan. Stres karena harus menjadi “jembatan” dan merasakan tekanan dari dua arah, rasa bersalah ketika merasa tidak cukup bagi siapa pun, sementara kelelahan fisik dan mental menjadi akumulasi karena terus-menerus menunda kebutuhan diri sendiri demi orang lain. Tidak sedikit yang terjebak dalam dilema “menolak membantu dianggap durhaka, membantu berlebihan bisa membuat dirinya hancur perlahan”.
Namun, di balik semua tekanan yang mereka hadapi, sandwich generation justru menunjukkan betapa kuat dan tangguhnya mereka. Mereka belajar harus menjadi dewasa lebih cepat, bukan karena keinginan, tetapi karena keadaan. Di tengah tekanan sosial dan ekonomi, ia memilih bertahan dengan segala keterbatasan, dan di situlah letak keberaniannya. Banyak di antara mereka yang mulai mencari cara agar tidak tenggelam dalam peran yang melelahkan ini.
Menjadi bagian dari sandwich generation bukanlah aib, justru ini adalah bentuk cinta yang luar biasa. Namun, begitulah cinta bekerja. Diam-diam, setia dan tak menuntut balasan. Ia tahu, hidup bukan lomba lari cepat, melainkan maraton yang panjang. Dan setiap langkah yang ia ambil sekarang, sekilas mungkin tak menuju ke mana-mana. tapi, sebenarnya sedang membentuk jalan, agar orang lain bisa berjalan lebih ringan.
Pada akhirnya, roti lapis bukan hanya soal isi, tapi juga bagaimana dua lapisan roti itu saling menekan namun tetap menjaga bentuknya. Begitu pula sandwich generation, mereka menahan tekanan dari dua sisi, namun tetap utuh karena kasih sayang, pengorbanan, dan harapan yang mereka bawa. Mereka bukan generasi lemah, mereka adalah generasi penjaga, perawat, dan perancang masa depan keluarga. Dan seperti roti lapis yang hangat, generasi ini juga butuh ruang untuk bernafas, untuk merasa cukup, dan untuk diberi jeda. Karena dalam diam mereka, tersimpan ketegaran yang menginspirasi.
“Alam tidak terburu-buru, namun semuanya tarcapai,” kata Lao Tzu.