Ungaran- Pesantren merupakan pendidikan agama Islam bagi anak-anak usia remaja. Mereka selama 24 jam tinggal di lingkungan pesantren untuk belajar agama Islam dan pembentukan karakter. Ini mirip dengan para novis yang juga 24 jam berada di novisiat untuk mendalami pelajaran agama Katolik.
Hal itu disampaikan oleh Peneliti Agama-Agama dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Luthfi Rahman, bersama pengajar hukum Islam Rabi‘atul Adawiyah dan Kepala Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Walisongo Naili Ni’matul Illiyyun dalam kunjungan ke Novisiat Girisonta Ungaran bersama santri Pondok Pesantren Al-Insaniyyah Salatiga, Minggu (03/08/25).
Pengajar Studi Agama-Agama itu menegaskan bahwa Islam dan Katolik sama-sama mengajarkan cinta kasih kepada sesama. “Jadi dari sisi ajaran universal kedua agama ini memiliki titik temu, dan dari sisi pendidikan, novisiat ini mirip dengan pesantren,” katanya.
Pendampingan Masyarakat
Pendamping Magister Girisonta, Romo Nico, dan Frater Wahyu Mega menyampaikan bahwa salah satu kegiatan novis atau calon imam Katolik di Novisiat Girisonta yaitu melakukan pendampingan belajar kepada anak-anak yang berada di sekitar Ungaran.
“Anak-anak yang kita dampingi untuk belajar tidak hanya anaknya orang Katolik saja, tapi kita terbuka untuk umum, siapapun boleh ikut, dan ada di antaranya anak muslim. Kita siapkan tempat salat di salah satu bangunan gereja di sana,” kata Halford, salah satu novis yang mendampingi anak-anak di Ungaran.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Insaniyyah, Khoirul Anwar, menyampaikan bahwa salah satu kegiatan pendampingan kepada anak-anak masyarakat sekitar yang dilakukan para novis di Girisonta, juga dilakukan para santri Al-Insaniyyah yang juga memiliki program pendampingan belajar kepada anak-anak warga sekitar.
“Al-Insaniyyah sebagaimana namanya, kemanusiaan, punya komitmen menjadi pesantren yang tidak hanya membekali para santri dari sisi intelektual semata, tapi juga mendidik karakter santri yang memiliki kepekaan sosial. Harapannya, supaya kelak teman-teman santri ini dapat menghadirkan agama sebagai solusi atas sejumlah problematika kemanusiaan, seperti kemiskinan, kebodohan, anak terlantar, dan yang lainnya,” paparnya.
Menurut pria yang akrab disapa Kang Anwar, setidaknya hari ini ada dua tugas utama yang dimiliki pesantren, yaitu tugas mengembalikan otoritas agama kepada orang yang berpengetahuan, dan tugas menjadikan agama tidak hanya mengurus persoalan yang bersifat ukhrawi saja, tapi juga mengusahakan kebaikan kehidupan di dunia. “Masyarakat lebih banyak memilih pendapat tentang agama dari orang-orang yang pengikut media sosialnya banyak daripada orang-orang berilmu seperti dari para akademisi UIN ini. Selain itu, agama juga kerap dipahami hanya berkaitan dengan kehidupan setelah kematian, padahal kehidupan di dunia ini juga sangat penting. Karenanya, agama harus hadir dan memberikan jawaban atas penderitaan umat. Ini bagian dari upaya mewujudkan doa meminta kebaikan di dunia dan akhirat, rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah,” jelasnya. [Rifqi-Insaniyyah]