Semarang– Peneliti Agama-agama UIN Walisongo, Lutfi Rahman, Rabi’atul Adawiyah dan Naili Ni’matul illiyyun bersama santri Pondok Pesantren Al-Insaniyyah Salatiga yang berjumlah 5 orang melakukan kunjungan ke Novisiat Girisonta, Bergas, Kab. Semarang pada Minggu 3/8.
Dalam sharing session yang digelar di kompleks asrama Novisiat Girisonta, Khoirul Anwar sebagai pemateri menyampaikan kegelisahannya akan agama hari ini. Terutama menyoroti dalam agama Islam yang dianutnya. Pasalnya pemegang otoritas agama hari ini dipegang oleh budaya pop yang mereduksi sistem dan nilai-nilai dalam Islam itu sendiri. Seperti akan adanya sanad dalam Islam ataupun syarat ketat sebagai orang yang faqih (ahli hukum Islam).
“Para peneliti, intelektual, para santri yang setiap harinya belajar kitab akan kalah dengan orang yang suaranya bagus, bisa sholawatan dst.” tutur Anwar.
Selain itu, Anwar yang dikenal sebagai pendiri Ponpes Al-Insaniyyah ini juga menyoroti kondisi pesantren hari ini. Bahwa pesantren sebagai lembaga yang mempersiapkan kaum agamawan masih lemah dengan kedisiplinan. Malah ini menjadi budaya dalam tradisi di pesantren. Seperti tabu dan aneh untuk menjadi seorang yang ingin disiplin. Belajar banyak dari Novisiat, Anwar bersemangat menggeser ketidakdisiplinan yang menjangkit dalam tubuh pesantren hari ini.
“Setelah melihat list kegiatan harian tadi, kita jadi banyak belajar dari novisiat. Bahwa pesantren sebagai lembaga pencetak kaum agamawan seharusnya disiplin, agamawan diundang tahli jam 7, ya jam 7 harus berangkat” ucapnya.
Sebelumnya, para peneliti dan santri diajak berkeliling kompleks asrama Novisiat Girisonta yang pada kali itu ditemani oleh Romo Nico selaku ketua bidang Pendidikan di Novisiat Girisonta. Sembari berkeliling, Romo Niko menjelaskan dan bercerita banyak mengenai tempat-tempat yang disuguhkan. Bahkan sempat kaget dan senang, pasalnya orang khatolik awam tidak sembarangan bisa masuk ke sini.
“Ya, orang khatolik awam tidak bisa sembarangan masuk ke sini, terkecuali sebagai tamu. Ataupun ketika ada upacara pemakaman romo, mereka bisa masuk ke sini untuk bersama memberi doa”
Banyak tempat yang disuguhkan, seperti Kompleks asrama para Romo, Kompleks asrama para Frater, Kapel atau gereja kecil, Emaus sebagai tempat masa tua para Romo, Ruang Makan, Tempat belajar frater, Perpustakaan dst.
Paling tidak, lawatan kali ini dapat membuka ruang dialog antar agama yang sebelumnya terkesan eksklusif. Koeksistensi yang disampaikan Lutfi dalam sharing session itu menjadi pembentuk kedamaian antar umat lintas agama.
Fakhrul Fata-Insaniyyah