Kawan-kawan para pembaca yang budiman khususnya warga Salatiga, Semarang dan sekitarnya tentu tidak asing lagi dengan Fort Willem I atau lebih dikenal dengan Benteng Pendem Ambarawa. Salah satu tempat bersejarah warisan kolonial ini telah dilakukan revitalisasi dan dibuka sebagai tempat wisata untuk umum pada tanggal 17 November 2025.
Benteng ini jadi salah satu spot wisata yang lagi hits banget, apalagi bagi kita yang suka foto-foto estetik. Banyak pengunjung yang datang cuma buat abadikan momen, upload ke instastory, dan ada juga yang berfoto dengan pakaian ala-ala Belanda. Saya yakin para pembaca sudah banyak tahu mengenai sejarah benteng ini, atau bisa langsung bertanya ke Mbah Google. Tapi, siapa sangka kalau benteng peninggalan kolonial ini ternyata menyimpan kisah kelam yang jarang kita ketahui.
Ternyata, benteng ini dulunya jadi saksi bisu kekejaman pemerintah dan pelangaran HAM terhadap tahanan politik 1965. Pasca insiden G30S, PKI dan simpatisannya diburu habis-habisan. Tak hanya itu, banyak juga manusia-manusia tak berdosa dan tak tahu menahu tentang peristiwa itu ikut ditahan dan dipenjara. Benteng Pendem ini digunakan sebagai penjara bagi para tahanan politik dan militer yang dituduh terlibat dalam peristiwa G30S.
Pada hari Sabtu (20/12/2025), penulis berkesempatan mengikuti kegiatan napak tilas di Benteng Pendem Ambarawa bersama komunitas Bersemai Sekebun. Komunitas ini berfokus pada isu kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi di Indonesia, terutama di Semarang dan sekitarnya, dengan tujuan menyuarakan kisah-kisah para eks-tapol 1965. Dalam kegiatan tersebut, hadir dua orang eks-tapol, yang menurut penulis lebih pantas disebut ‘penyintas’, sebutan bagi mereka yang mampu bertahan hidup dari tragedi yang mereka alami.

Sumber: Doc Bersemai Sekebun
Meskipun usia mereka sudah mencapai 80 tahun, kedua penyintas ini masih tampak sehat. Salah satunya adalah Mbah Ngadenan, yang berasal dari Pacitan. Ia berbagi kisah bahwa ketika ditangkap oleh tentara, ia baru berusia 19 tahun. Cerita dimulai ketika ia merantau ke Semarang untuk bekerja di koperasi Angkatan Darat Batalyon 440 Ambarawa setelah lulus dari sekolah menengah atas. Tertarik untuk bergabung menjadi tentara, ia mendaftar sebagai tentara dan berhasil diterima. Ia sempat menjalani pendidikan tentara di Purworejo pada awal tahun 1965.
Pasca peristiwa G30S, seluruh tentara satu batalyon yang ada di tempatnya dikumpulkan. Beberapa dari mereka, termasuk Mbah Ngadenan, dibawa ke Klaten dan kemudian dipenjara di Benteng Pendem dengan tuduhan terlibat dalam peristiwa tersebut. Ia mengaku sama sekali tidak tahu mengenai G30S, bahkan nama PKI pun terasa asing baginya di usianya yang masih muda. Selama lima tahun di penjara, ia menggambarkan kondisi yang sangat memprihatinkan: para tahanan tidur berhimpitan dalam ruangan sempit dan hanya diberi makanan berupa nasi dan sayur yang sudah membusuk.
Orang tuanya tidak pernah mengetahui bahwa ia dipenjara. Selain itu, para tahanan juga dipekerjakan secara paksa, membersihkan rawa pening, membuat jalan, dan menjalani berbagai pekerjaan lainnya. Jalanan yang ada di daerah Sembir adalah salah satu hasil jerih payah mereka. Ketika Mbah Ngadenan mengisahkan pengalamannya di Benteng Pendem, ia tak kuasa menahan air matanya. Ia masih ingat wajah teman-temannya yang dipanggil oleh tentara untuk dieksekusi. Sebuah kenangan yang sulit dilupakan baginya.
Pengalaman menyedihkan yang diceritakan oleh Mbah Ngadenan tentunya bukan sekadar pengetahuan. Ia menyimpan luka, trauma, dan kekerasan. Meskipun tahun 1965 sudah berlalu cukup lama, kita sebenarnya tidak jauh dari tragedi tersebut. Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim saat itu masih sangat membekas bagi mereka. Banyak di antara mereka yang masih hidup di sekitar kita, dan ingatan mereka perlu kita rawat.
Cerita-cerita ini perlu kita bagikan kepada teman-teman dan orang-orang di sekitar kita agar mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin pemerintah atau para penguasa dapat membunuh siapa saja yang mereka kehendaki demi mempertahankan kekuasaan. Namun, perlu kalian ketahui bahwa ada satu hal yang tidak akan pernah bisa mereka bunuh, yaitu ingatan! Ya, ingatan adalah senjata kita semua. Merawatnya adalah ancaman bagi penguasa.
Oleh: M. Ghithrof Danil Barr
Comment (1)
tashanwingamelogin
says Januari 07, 2026 at 10:13 pmJust logged into Tashanwingamelogin and already feeling the potential here! The graphics are sharp and the gameplay is smooth. Looks like a good new place to try. See it at tashanwingamelogin.