Siapa dari kalian yang sudah menyiapkan agenda di malam tahun baru? Saya yakin pasti ada yang sudah mempersiapkan pesta atau agenda seperti bakar-bakar bersama teman-teman, keluarga, atau mungkin bersama pujaan hati. Apa pun perayaan yang akan kita lakukan dalam rangka menyambut tahun baru itu tidak akan memberikan perubahan yang positif untuk hidup kita kedepannya. Hari-hari yang kita lewati akan tetap sama seperti tahun-tahun yang telah berlalu. Toh, presiden kita juga masih sama.
Terompet akan berhenti berbunyi, kembang api akan habis terbakar, jalanan akan tersisa sampah yang berceceran. Semua akan kembali ke rumah dengan memikirkan beban hidupnya masing-masing. Kita seharusnya sadar betapa tidak pentingnya pesta pergantian tahun itu. Penulis tidak akan membawakan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits. Tidak juga ingin membahas ndakik-ndakik perihal hukumnya merayakan tahun baru.
Tulisan ini muncul berkat algoritma Instagram yang menyodorkan sebuah postingan unik kepada saya. Para pembaca sudah pasti pernah melihatnya. Postingan yang selalu dimunculkan setiap perayaan Natal. Dalam postingan tersebut terpampang sosok pengrajin patung Yesus bernama Muhammad David Riyan Hidayat yang dikutip dari salah satu siaran berita channel TV konvensional. Ribuan komentar hasil ketikan jari para netizen membanjiri postingan tersebut.
Banyak dari netizen yang heran, ada yang mendukung. Ada yang menganggapnya sebuah toleransi. Ada juga yang menuduhnya sesat, telah keluar dari agama karena mendukung kemusyrikan. Ada juga komentar lucu yang mengatakan pekerjaannya adalah membuat tuhan. Dari komentar itu lah, saya berpikir bahwa sebenarnya tanpa disadari kita juga terkadang membuat tuhan baru. Tuhan yang tidak berbentuk patung manusia. Tidak pula berbentuk hewan.

Jean Baudrillard, seorang filsuf post-modern berkebangsaan Perancis punya sebuah konsep dalam memandang masyarakat modern. Menurutnya, seringkali kita sebagai masyarakat modern menganggap bahwa dunia nyata itu penuh dengan kegelisahan, keresahan, kesedihan, sehingga menjadikan kita membuat dunia sendiri yang menawarkan keindahan, kenikmatan, kemewahan, kesenangan dan lain sebagainya. Dunia itu disebut sebagai ‘Simulakra’. Dunia itu kita ciptakan sebagai pelarian dari dunia nyata. Kita mencoba menciptakan dunia palsu yang kita anggap lebih indah dari dunia nyata yang mereka alami. Kita terperangkap dalam dunia palsu yang kita buat sendiri.
Simulakra, menurut hemat penulis adalah sebuah gambaran atau simulasi yang sudah melebihi realitas aslinya. Kata Baudrillard, dalam masyarakat modern kita lebih sering berinteraksi dengan simulakra daripada dengan dunia nyata atau realitas yang sebenarnya. Contoh yang sering kita jumpai adalah media sosial. Orang-orang lebih sering membagikan momen yang sudah diedit dan difilter, atau mengunggah ‘Cerita’ yang estetik agar dibilang keren. Mengunggah foto buku agar terlihat suka baca buku, dan lain sebagainya. Jadi, simulakra itu seperti menciptakan ‘realitas palsu’ yang lebih diterima dan lebih diinginkan orang daripada realitas yang sebenarnya.
Lantas, apa kaitannya dengan perayaan tahun baru di awal tadi. Coba kita pikirkan, mengapa masih banyak orang atau bahkan dari kita sendiri yang merayakan pergantian tahun baru? Jawabannya tidak lain ialah karena orang-orang itu butuh tuhan baru. Mereka butuh tuhan yang membuat mereka selalu gembira dan senang. Sebab, Tuhan yang selama ini mereka sembah, mereka pikir hanya selalu merepotkan dengan terlalu banyak menyuruh dan melarang demi mendapatkan kesenangan surga yang entah kapan datang. Mungkin karena mereka tidak sabar menunggu, malas beribadah dan diam-diam memang tidak menyukai agama.
Kehadiran tuhan baru tidak hanya mereka bikin satu dengan membuat pesta tahun baru, tapi juga dengan menciptakan tuhan-tuhan baru yang lain. Entah tuhan yang berwujud mall, night club, tequila, atau apapun itu yang membuat kita senang. Sedangkan, Tuhan yang asli mereka letakkan di pojokan, menjadi barang yang menakutkan dan didekati ketika waktu mendesak saja.
Sekali lagi, penulis tidak menyinggung terkait hukum perayaan tahun baru dalam perspektif agama. Penulis hanya ingin mengajak kita semua merenungkan kembali apa yang telah menjadi kebiasaan kebanyakan orang di setiap pergantian tahun. Pembaca mungkin akan bertanya, bagaimana jika ada teman atau sanak saudara yang mengajak kita merayakan tahun baru dengan agenda seperti bakar-bakar dan sebagainya. Tidak usah khawatir. Merujuk pada sabda Nabi yang sering kita dengar. Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Kita niati saja kegiatan tersebut sebagai ajang mempererat silaturrahmi, tidak lebih. Kalau lebih, itulah yang harus kita hindari. Jangan sampai kita ikut-ikutan membuat tuhan-tuhan baru itu. Kalau perlu kita bunuh saja!
Oleh: M. Ghithrof Danil Barr